Jumat, 25 Maret 2022

Hari Raya Kabar Sukacita (Feast of The Annunciation)

 


Sama seperti di awal pekan bulan Maret lalu saat kita memperingati Rabu Abu. Di pekan penutup bulan ini, sebenarnya gereja juga memiliki satu peristiwa penting. Terkhusus terkait dengan Kelahiran Yesus (Natal).

Lho, memangnya ada apa? Bukankah Natal bulan Desember? Bukankah sekarang ini masih dalam masaraya Prapaskah?

Tenang... Itu tidak salah. Natal jelasnya diperingati setiap tanggal 25 Desember. Tetapi ia tidak berdiri sendiri sebagai peristiwa tunggal. Ada yang namanya peristiwa inkarnasi Yesus Kristus dalam rahim perawan Maria.

Peristiwa ketika malaikat Gabriel memberi Kabar Sukacita kepada Maria yang akan melahirkan Sang Imanuel ini dikenal sebagai Hari Raya Kabar Sukacita (Anunsiasi/Annuciation Day). Tanggal perayaan ini jatuhnya pada setiap 25 Maret.

 “Salam, engkau yang penuh rahmat. Tuhan sertamu… Engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang Anak laki-laki dan engkau akan menamai Dia, Yesus….” (Luk 1:28-31).

Peristiwa sakral sembilan bulan sebelum Natal inilah yang menjadi titik sentral peristiwa inkarnasi. Dengan kata laun, ini adalah momen “kelahiran semu” dari Yesus, Sang Anak Allah.

Memang di dalam Injil tidak menyebutkan kapan tanggal pastinya dari inkarnasi Yesus. Sama seperti tanggal kelahiran-Nya. Namun, orang-orang Kristen perdana memiliki tradisi lisan dan tertulis dari peristiwa-peristiwa yang dianggap suci.sakral tersebut.

Tentu saja keputusan yang diambil oleh Gereja Perdana melalui pertimbangan yang cermat dan juga terdapat perdebatan panjang, Hingga akhirnya diputuskanlah Hari Raya Kabar Sukacita pada tanggal 25 Maret.

Secara universal, perayaan Anunsiasi ini dalam kekristenan menjadi hari penting khususnya dalam gereja Ortodoks, Anglikan, Katolik, dan Lutheran.

Nah, kalau peringatan Rabu Abu kemarin, beberapa gereja Protestan arus utama sudah mau terbuka untuk menerima warisan tradisi gereja (Katolik). Bukankah malah lebih baik lagi kalau Hari Raya Kabar Sukacita ini juga diterima dan masuk dalam kalender gerejawi pula.

Bukan lagi saatnya mempertentangkan soal warisan tradisi gerejawi, “Ini dari mana asalnya?”. Justru kembali menjadi satu dalam akar yang sama sebagaimana gereja mula-mula menjalankannya, justru makin baik. Artinya, semangat kebersamaan dalam wujud oikumene yang satu dan am makin mengedepan. Sebab, apaapun segala perbedaan yang ada, tetaplah Kristus yang menjadi Kepala Gereja-nya.

Selamat memperingati Hari Raya Kabar Sukacita. Tuhan memberkati....

 

25 Maret 2022 

© Kabar Paseduluran



Rabu, 02 Maret 2022

Rabu Abu

 


Walaupun sama-sama menyandang nama Kristen, umat Katolik punya tradisi kuat soal "Rabu Abu". Bagaimana dengan Protestan? Masih menjadi perdebatan di beberapa golongan/kelompok. 
 
"Soalnya "nanggung" penjelasannya tak terlalu gamblang dan dalam. Cuma sekadar ikut-ikutan ritual Katolik." Begitu salah satu alasannya.

Mengutip dari katolisitas.org, Rabu Abu adalah hari pertama Masa Prapaska, yang menandai bahwa kita memasuki masa tobat 40 hari sebelum Paska.

Angka “40″ selalu mempunyai makna rohani sebagai lamanya persiapan. Misalnya, Musa berpuasa 40 hari lamanya sebelum menerima Sepuluh Perintah Allah (lih. Kel 34:28).
Nabi Elia (lih. 1 raj 19:8). dan Tuhan Yesus sendiri juga berpuasa selama 40 hari 40 malam di padang gurun sebelum memulai pewartaan-Nya (lih. Mat 4:2).
 

1. Mengapa Hari Rabu?

Gereja Katolik menerapkan puasa ini selama 6 hari dalam seminggu (hari Minggu tidak dihitung, karena hari Minggu dianggap sebagai peringatan Kebangkitan Yesus), maka masa Puasa berlangsung selama 6 minggu ditambah 4 hari, sehingga genap 40 hari.

Dengan demikian, hari pertama puasa jatuh pada hari Rabu. (Paskah terjadi hari Minggu, dikurangi 36 hari (6 minggu), lalu dikurangi lagi 4 hari, dihitung mundur, jatuh pada hari Rabu).

Jadi penentuan awal masa Prapaska pada hari Rabu disebabkan karena penghitungan 40 hari sebelum hari Minggu Paskah, tanpa menghitung hari Minggu.
 

2. Mengapa Tanda “Abu”?

Abu adalah tanda pertobatan. Kitab Suci mengisahkan abu sebagai tanda pertobatan, misalnya pada pertobatan Niniwe (lih. Yun 3:6).

Di atas semua itu, kita diingatkan bahwa kita ini diciptakan dari debu tanah (Lih. Kej 2:7), dan suatu saat nanti kita akan mati dan kembali menjadi debu.

Olah karena itu, pada saat menerima abu di gereja, kita mendengar ucapan dari Romo, “Bertobatlah, dan percayalah kepada Injil” atau, “Kamu adalah debu dan akan kembali menjadi debu” (you are dust, and to dust you shall return).”


Puasa

Masa 40 hari sebelum Paskah, biasanya umat Katolik juga mengadakan yang namanya APP alias Aksi Puasa Prapaskah.

Lalu bagaimana caranya melakukan puasa? Silakan lihat dalam slide berikut ini.


 



Semoga pelajaran singkat ini bermanfaat. Selamat menghayati Rabu Abu buat yang mengikuti prosesi Ibadah dan pemberian tanda abu hari ini.

Kembali berpulang pada kesadaran pribadi. Tidak usah saling merasa benar dengan peristiwa ini.

Kalaupun cara ini menjadi salah satu sarana, jalan menuju keesaan gereja, ya boleh-boleh saja. Kalau ada hal-hal yang dianggap kurang, ya perlu dibenahi.

Jangan juga yang punya gawe membuat "tradisi baru" di gereja-gereja yang sebelumnya tak mengenal ritus ini menjadi lupa diri. Warga "awam" butuh penjelasan yang sederhana saja, bukan seperti paham teologi yang tinggi-tinggi.

Soli Deo Gloria. Segala kemuliaan bagi Sang Kepala Gereja.

Gusti mberkahi...

 
2 Maret 2022

Hari Raya Kabar Sukacita (Feast of The Annunciation)

  Sama seperti di awal pekan bulan Maret lalu saat kita memperingati Rabu Abu. Di pekan penutup bulan ini, sebenarnya gereja juga memili...