Sama seperti di awal pekan bulan Maret lalu saat kita memperingati Rabu Abu. Di pekan penutup bulan ini, sebenarnya gereja juga memiliki satu peristiwa penting. Terkhusus terkait dengan Kelahiran Yesus (Natal).
Lho, memangnya ada apa? Bukankah Natal bulan Desember? Bukankah sekarang ini masih dalam masaraya Prapaskah?
Tenang... Itu tidak salah. Natal jelasnya diperingati setiap tanggal 25 Desember. Tetapi ia tidak berdiri sendiri sebagai peristiwa tunggal. Ada yang namanya peristiwa inkarnasi Yesus Kristus dalam rahim perawan Maria.
Peristiwa ketika malaikat Gabriel memberi Kabar Sukacita kepada Maria yang akan melahirkan Sang Imanuel ini dikenal sebagai Hari Raya Kabar Sukacita (Anunsiasi/Annuciation Day). Tanggal perayaan ini jatuhnya pada setiap 25 Maret.
“Salam, engkau yang penuh rahmat. Tuhan sertamu… Engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang Anak laki-laki dan engkau akan menamai Dia, Yesus….” (Luk 1:28-31).
Peristiwa sakral sembilan bulan sebelum Natal inilah yang menjadi titik sentral peristiwa inkarnasi. Dengan kata laun, ini adalah momen “kelahiran semu” dari Yesus, Sang Anak Allah.
Memang di dalam Injil tidak menyebutkan kapan tanggal pastinya dari inkarnasi Yesus. Sama seperti tanggal kelahiran-Nya. Namun, orang-orang Kristen perdana memiliki tradisi lisan dan tertulis dari peristiwa-peristiwa yang dianggap suci.sakral tersebut.
Tentu saja keputusan yang diambil oleh Gereja Perdana melalui pertimbangan yang cermat dan juga terdapat perdebatan panjang, Hingga akhirnya diputuskanlah Hari Raya Kabar Sukacita pada tanggal 25 Maret.
Secara universal, perayaan Anunsiasi ini dalam kekristenan menjadi hari penting khususnya dalam gereja Ortodoks, Anglikan, Katolik, dan Lutheran.
Nah, kalau peringatan Rabu Abu kemarin, beberapa gereja Protestan arus utama sudah mau terbuka untuk menerima warisan tradisi gereja (Katolik). Bukankah malah lebih baik lagi kalau Hari Raya Kabar Sukacita ini juga diterima dan masuk dalam kalender gerejawi pula.
Bukan lagi saatnya mempertentangkan soal warisan tradisi gerejawi, “Ini dari mana asalnya?”. Justru kembali menjadi satu dalam akar yang sama sebagaimana gereja mula-mula menjalankannya, justru makin baik. Artinya, semangat kebersamaan dalam wujud oikumene yang satu dan am makin mengedepan. Sebab, apaapun segala perbedaan yang ada, tetaplah Kristus yang menjadi Kepala Gereja-nya.
Selamat memperingati Hari Raya Kabar Sukacita. Tuhan memberkati....
25 Maret 2022

Tidak ada komentar:
Posting Komentar