Kamis, 07 Januari 2021

Jalan Hidup

 

Yuhuuu... Banyak sekali medol (media online) yang memberitakannya sejak kemarin (18/11/2020). Ya, mantan artis cilik yang dulunya laki-laki, kini bertransformasi menjadi feminim. Dia adalah Dena Rachman.

Ada beberapa hal yang sebetulnya bisa dibahas dalam hal ini. Misalnya soal perjalanan spiritual hingga keterbukaan gereja dalam menerima minoritas seksualitas seperti dia.

Kedua, soal media atau penulis (wartawan) yang ambigu dalam pemilihan kata. Tak jelas apa maksud penyebutan istilah antara Nasrani dan Kristen dalam kesatuan cerita. Kacau....

###

Sekilas jika membaca judul-judul berita tersebut, mungkin akan muncul pertanyaan lain. “Lha kalau si Dena tetap mempertahankan sisi genitalnya sebagai laki-laki, tapi ia juga operasi payudara untuk eksistensi jatidiri, terus bagaimana juga nanti perkawinannya?”

Jujur, ini jangan dikatakan olok-olok atau guyonan. Toh, realitanya begitu, kan... 

Okay, itu urusan nanti. Bisa panjang diskusinya. Silakan kalau mau buat daftar pertanyaan. Sampaikan di kolom komentar. Yuk, saling berbagi... 

 

Jalan Panjang Menemukan Jatidiri

Dari berbagai pilihan, sepertinya Liputan6 yang dirasa agak lebih baik penyajiannya. Judul beritanya “Dena Rachman Pindah Agama, Nangis Saat Terpuruk dan Diingatkan Masih Ada Harapan.” Tautan: https://www.liputan6.com/showbiz/read/4411502/dena-rachman-pindah-agama-nangis-saat-terpuruk-dan-diingatkan-masih-ada-harapan

Berikut kutipannya (tanpa foto).

Dena Rachman mengungkap perjalanan spiritualnya. Sejak kecil, Dena Rachman penasaran dan ingin belajar kehidupan sejumlah nabi. Beranjak dewasa, ia pun bergumul dan terus mencari.

Sempat menjadi ateis atau tak percaya Tuhan, Dena Rachman memasuki episode baru kehidupan dengan mencari Sang Khalik. Ia berpendapat, manusia kehilangan kendali jika tak punya pegangan.

“Pada akhirnya gue menyadari harus begini-begitu, harus sukses menurut definisi gue dan dunia. Ujung-ujungnya gue capai, enggak nyampai, enggak dikasih,” Dena Rachman mengenang.

Kegagalan Adalah Nama Tengahku

“Gue bisa bilang, ada masa di mana gue merasa bahwa kegagalan adalah nama tengah gue. Gue merasa gagal dalam segala hal dari hubungan pribadi sampai bisnis,” kata Dena Rachman.

Tahun 2015 sampai 2017, ia mengalami masa kelam. Nyaris semua rencana dalam karier hingga hubungan pribadi kandas. Bahkan, Dena Rachman tak berani berharap saking sering gagal.

Liburan ke Amerika

“Waktu itu gue liburan ke Amerika, ke Los Angeles ceritanya. Gue stay sama teman. Jadi sebelumnya ada bokap teman meninggal, ada misa dan gue ikutan. Gue merasa damai segala macam,” ia mengingat.

Waktu Itu Natal...

“Pas gue di sana, gue nanya kalau di sini tuh ke mana lo pergi. Waktu itu Natal dan iseng jalan-jalan. Tiba-tiba gue buka brosur, isinya kami terbuka untuk semua orang termasuk warna kulit dan gender,” bintang film Flight 555 membeberkan.

Saat itulah, Dena Rachman merasakan kehadiran Sang Khalik. Ia pun memberanikan diri datang ke gereja. Di sana, tak ada stigma dan penghakiman. Dena Rachman merasa diterima dan menangis.

Pertama Kali Datang ke Gereja

“Pertama kali datang ke gereja gue nangis waktu itu,” kata Dena Rachman. Kemudian ia mendapati kalimat berbahasa Inggris yang artinya, “Ketidakberdayaan adalah sebuah situasi, tidak ada harapan adalah sebuah keputusan.”

Dalam kondisi tak punya harapan, Dena Rachman menemukan semangat. “Saat itu, tiba-tiba gue punya harapan lagi. Tiba-tiba gue mau hidup lagi, tiba-tiba mau usaha lagi, dan mau ikut Tuhan Yesus dengan apa pun yang telah Ia kerjakan,” pungkasnya.

Gereja dan Penerimaan Kaum Marjinal

Dalam teori, gereja bukan tempat orang-orang suci. Justru di sanalah tempat para manusia berdosa datang berkumpul. Datang ke rumah Tuhan dengan situasi dan kondisi keberdosaan masing-masing. Tentu saja, dalam hal ini, Sang Kristus sendiri sebagai Kepala Gereja, akan dengan tangan terbuka, menerima kedatangan siapapun yang mau merendahkan hati, mengakui dosanya dan mohon pengampunan dan keselamatan dari pada-Nya.

###

Apakah sikap penerimaan gereja terhadap Dena ini identik jika halnya disamakan dengan kelompok pro LBGT.

Gereja sendiri nampaknya belum ada ketegasan sikap. Masih hanya sebatas pendapat individu.

 

Catatan hari ini

19 November 2020

by: paseduluran kristen jawi GKJW



 *) bersambung....

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Hari Raya Kabar Sukacita (Feast of The Annunciation)

  Sama seperti di awal pekan bulan Maret lalu saat kita memperingati Rabu Abu. Di pekan penutup bulan ini, sebenarnya gereja juga memili...