Lanjutan yang kemarin ya...
Menafsir Pernyataan, Beda Konteks (bagian 2 dari 3)
"Penerimaan pada orangnya, bukan pada perbuatan dosanya. "
Sebenarnya sikap ini sudah jelas dan tegas. Seperti teladan Yesus tatkala Ia dilihat begitu dekat dengan orang-orang kecil yang dianggap menyalahi aturan Taurat.
Ia dianggap seperti "musuh" karena mendobrak tatanan yang sudah mapan. Seakan-akan Yesus mendudukkan diri berseberangan dengan para ahli Taurat dan kaum Farisi dalam bersikap terhadap orang-orang yang dianggap berdosa.
Prinsip yang sama ini sebenarnya juga disoroti oleh pemimpin umat Katolik sedunia, Paus Fransiskus pada jelang akhir bulan Oktober lalu. Seperti mengingatkan kembali, kita boleh membenci orang-orang yang "tidak normal" karena perbuatan salah mereka. Tetapi tetap terima mereka sebagai sesama ciptaan.
Pernyataan itu diutarakan Paus Fransiskus dalam film Fransesco, sebuah dokumenter yang disutradarai oleh pembuat film asal Rusia, Evgeny Afineevsky, yang ditayangkan perdana di Festival Film Roma, Rabu (21/10/2020).
Tapi apa yang terjadi kemudian? Beda yang disampaikan, beda pula yang diwartakan.
Ada media besar yang sebenarnya secara terselubung “anti-kekristenan” berupaya memutar balik istilah dan memberikan penafsiran baru atas ucapan yang dilakukannya.
Gayung bersambut. Tentu, yang punya paham sejenis. Termasuk di negara +62 kali ya.... (lihat gambar 2-3).
Yup... Kala itu, Paus dituding mendukung aturan legalitas pasangan sesama jenis. Hah.... tentu saja bumi gonjang-ganjing...
Paus, pemimpin umat Katolik sedunia bisa segampang itu bicara. Melegalkan pasangan sejenis dalam ritual gereka Katolik. Yang bener saja....Ini sama saja melanggar hukum gereja yang sudah diputuskannya sendiri.
Apa pangkal persoalannya?
Terjemahan dari berita bahasa Spanyol (lihat gambar 1) adalah: “Yang harus kita buat adalah sebuah 'hukum bersama' dalam masyarakat. Mereka memiliki hak untuk dilindungi secara resmi.”
Makna kata “Convivencia Civil” yang jadi sorotan itu sebenarnya adalah ajakan untuk hidup bersama sebagai masyarakat untuk melindungi pribadi-pribadi homoseksual dari diskriminasi dan kekerasan.
Tentu saja, ini berbeda artinya dengan “Civil Union” alias persatuan sipil atau ikatan yang serupa dengan perkawinan.
Jelas sekali ada beda makna antara Convivencia Civil dalam bahasa Spanyol yang diterjemahkan menjadi Civil Union dalam bahasa Inggris.
Tentu, media punya kans besar dalam membentuk opini massa. Kalau itu baik, memberikan pencerahan dan pencerdasan, ya tak masalah sih... Bisa didukung dan direkomendasikan buat rujukan. Tapi jika sebaliknya, tentu harus ada upaya perlawanan.
Dalam hal inilah peran media gereja sebagai humas-nya umat dan publik, peka terhadap segala peristiwa. Up to date. Kekinian.
Celaka kalau kehadiran gereja tak mampu melawan dominasi sekuler seperti ini, yang justru membahayakan iman dan keberagaman.
Catatan hari ini
20 November 2020
by: paseduluran kristen jawi GKJW

Tidak ada komentar:
Posting Komentar