Note: catatan ini mohon dikoreksi atau ditambahkan kelengkapannya bagi yg lebih tau sejarahnya. Matur nuwun...
Pasca kemerdekaan, saat pimpinan GKJW mengalami dualisme kepemimpinan, diadakanlah Sidang MA di Jemaat Wiyung selama satuhari pada tanggal ….. Oktober 1945.
Dalam persidangan yang masih diwarnai trauma akibat perang ini,ternyata di sana pun masih dijumpai rasa saling mencurigai. Merasa benar sendiri dan mempersalahkan yang lainnya.
Mudah ditebak, perjalanan sidang tidak bisa berjalan dengan baik.
Untuk mengatasi hal ini, muncullah sosok penengah, Pdt. (?) Iskandar, seorang ketua PGI (Persatuan Guru Injil).......
Dengan tampilnya ia sebagai pemmpin sidang, suasana yang semula penuh dengan ketegangan, lambat-laun akhirnya bisamencair. Sidangpun bisa berjalan dengan lancar.
Salah satu keputusan yang diambil di antaranya adalah memperlengkapi kembali keanggotaan PPMA (PHMA kini) yang sebelumnya sempat kocar-kacir akibat ‘dualisme’ kelembagaan (pasca munculnya RPK).
Saat ini, mungkin tiada lagi ditemukan perpecahan secara komunal dalam kelembagaan. Namun bukan berarti ini tidak ada masalah.
Ketika orang-orang kritis, mereka yang sebenarnya peduli, yang berada di luar struktur organisasi hanya dianggap "pengganggu kenyamanan", (dan kalau bisa 'dibuang'), maka itulah sebenarnya karat yang mampu mengeroposkan tiang penyangga keutuhan gereja.
Selamat hari guru nasional...
Seperti filosofi pendidikan ala Ki Hajar Dewantara, "Setiap orang adalah murid dan sekaligus guru, setiap tempat adalah sekolah, setiap buku adalah ilmu."
Mari saling mengasah dan belajar. Dan... jangan pernah melupakan sejarah kita.
Gusti mberkahi....
Catatan hari ini
25 November 2020
by: paseduluran kristen jawi GKJW

Tidak ada komentar:
Posting Komentar