Kebanyakan warganet kalau dikasih link atau tautan berita sumber asal,
kebanyakan tidak dibaca. Tapi kolom komen full dengan aneka macam tulisan.
Pernah kan menemui seperti ini... 
Daripada seperti itu, sekalian saja dikutipkan lengkap sebagai pembanding dari kabar sebelum ini. Berikut tulisan lengkap yang diambil dari :
https://sejuk.org/.../sepetik-ikhtiar-persaudaraan.../
Cara pandang "liyan" terhadap kita. Sebenarnya
seperti apa yang terjadi sehingga keberbedaan justru merapuhkan semangat
kebhinnekaan kita.
Tulisan ini lumayan panjang. Tapi yang nulis pinter.
Salut...
##########
Sepetik Ikhtiar Persaudaraan Kristen-Islam di GKJW Sukun
“Siapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk bagian
dari mereka.”
Sebuah pertanyaan, muslim mana yang tidak mengenal baris
hadits di atas?
Hadits yang biasanya naik pamor dan dijadikan penguat
argumen manakala perdebatan menyoal tradisi ucapan selamat Natal dan tahun baru
menyeruak di kalangan masyarakat Indonesia tiap penghujung tahun.
Begitu pula bagi saya, hadits tersebut menjadi sangat
familiar berkelindan dalam kehidupan sehari-hari sejak kecil hingga kini. Tentu
saja beriringan dengan penggalan ayat surat Al-Kafiruun yang juga tak kalah
populer, “Bagimu agamamu dan bagiku agamaku”.
Layaknya segala firman Allah yang selama ini umat muslim
termasuk saya sendiri baca, pelajari dan amalkan, semuanya tentu saja berbahasa
Arab dan tersedia terjemahan dalam Bahasa Indonesia. Namun tafsiran ayat maupun
hadits tentu saja bukan hal seremeh membuka bungkus permen kemudian menelan
isinya begitu saja. Dibutuhkan ilmu dan pemahaman khusus yang tentu saja
membutuhkan kajian yang bersinggungan dengan sudut pandang sosial dan budaya
masyarakat kita yang heterogen.
Saya tak hendak mengkaji tafsir dua kalimat fenomenal di
atas. Hanya saja, hal tersebut benar-benar mengepung pemikiran saya manakala
pagi tadi (30/6) di hari Minggu saat Kota Malang sedang dingin-dinginnya. Saya
dan beberapa kawan bertandang ke Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW), sebuah rumah
peribadatan bagi teman-teman Kristen yang terletak di Kecamatan Sukun.
Dinginnya udara pagi yang seolah menggigit kulit seketika
berangsur menghangat begitu saya dan rombongan dari Serikat Jurnalis
Keberagaman (Sejuk) tiba di halaman gereja. Satu per satu menuruni angkot
memasuki GKJW. Seorang jemaat, bapak paruh baya dengan pakaian rapih, tersenyum
hangat menyalami kami satu per satu. Tanpa rasa canggung maupun rasa
keterpaksaan. Seorang ibu bahkan menawarkan teh hangat pada saya dan beberapa
kawan, lagi-lagi dengan tingkat keramahan yang tidak dibuat-buat
Matahari berangsur meninggi dan mulai tampak berkilauan di
langit timur. Jarum jam mengarah pada pukul 7 tepat. Jemaat mulai memadat.
Semua tampak taat dan khidmat. Setelah menerima lembaran tata ibadah, saya
mencoba untuk membaur dalam barisan jemaat. Seorang perempuan muda sempat
menawarkan lembaran tata ibadahnya karena sempat mengira saya tidak kebagian,
ia menawarkan dengan ramah dan senyum yang hangat.
Kemudian saya pun mulai mengikuti proses kebaktian. Ketika
jemaat berdiri saya turut berdiri, meyesuaikan dengan apa yang tertera pada
tata ibadah. Saat itu pula terlintas beberapa hal, ragam pikiran yang
konservatif dan fanatik tentang agama yang penuh dengan prasangka dan selama
ini pernah bercokol dalam diri saya.
Ya, setidaknya sebelum saya mulai membaca banyak literasi,
mengikuti diskusi, menjalin relasi dengan teman-teman Kristen. Ada sebuah
pemikiran bahwa terlarang dan haram hukumnya untuk umat muslim pergi ke rumah
ibadah umat agama lain. Apalagi mengikuti prosesi ibadahnya dan memakan sajian
hidangannya. Benarkah pergi ke gereja, mengikuti rangkaian ibadah dan
berinteraksi dengan umat agama lain akan serta merta membuat saya menjadi
Kristen?
Setelah beberapa saat melakoni proses kebaktian, saya
mencoba untuk berkeliling, melihat ke sekitar gereja. Mencari hal menarik yang
bisa saya pelajari untuk dikemas menjadi tulisan. Barangkali juga beberapa jawaban
atas kecamuk dalam batin saya.
Kunjungan peserta workshop pers mahasiswa SEJUK ke Gereja
Kristen Jawi Wetan (GKJW) Sukun 30/07/2019)
Harmoni dalam Persaudaraan Sejati
“Ayo tambah lagi nasinya!”
“Itu lauknya sedikit sekali?”
“Ayo ayo makan yang banyak ya, maaf ya seadanya saja …”
Begitulah yang ibu-ibu penyambut tamu ucapkan berkali-kali
dengan senyum sumringah saat memberi kami hidangan sarapan pagi di belakang
gereja. Empat meja tertata rapi, beberapa gelas teh diletakkan di atasnya. Saya
dan kedua rekan pun menikmatinya sembari berbincang dengan Pendeta Sinung
Mawanto. Obrolan mengalir begitu saja diselingi dengan kelakar khas beliau.
Dari beliau pula saya mendapatkan informasi tentang program Kelas Lintas Iman
yang GKJW sering selenggarakan.
“Karena hidup dengan damai adalah keinginan semua orang,
perdamaian antar umat beragama akan menjadikan kerajaan surga di dunia,” ucap
Pendeta Sinung sembari menyesap kopi hitamnya.
Beliau mengatakan Kelas Lintas Iman ingin mencapai
terciptanya persaudaraan sejati, sebuah hubungan yang tidak semata didasari
oleh kepentingan, namun untuk mencapai sebuah tujuan. Satu tujuan yang sejalan,
yaitu perdamaian. Beliau mengatakan bahwa GKJW Sukun juga memiliki relasi yang
baik dengan Gusdurian Malang.
Pak Sinung beberapa kali juga menggunakan ponselnya untuk
memotret suasana perjamuan di tengah obrolan kami. Kemudian menunjukkan hasil
potretnya kepada saya.
“Entah saya saja atau gimana, tapi tiap melihat suasana
seperti ini saya sangat senang dan nyaman. Mbak bagaimana?” tanyanya,
pandangannya beliau edarkan menyapu setiap penjuru keramaian yang dipenuhi
manusia.
Jemaat yang sedang menyantap hidangan dengan keluarga dan
temannya, tamu yang tertawa dengan wajah gembira, pemuda yang melayani di
bazar, remaja yang memberikan hiburan dengan permainan musik, hingga
lalu-lalang anak kecil bermain dengan riang bersama. Tak bisa dipungkiri,
nuansa yang bagi saya mirip lebaran dan biasa saya temukan saat pulang ke
kampung halaman di bulan Syawal, ternyata dapat saya jumpai setiap akhir pekan
di tempat yang tak jauh dari pusat kota tempat saya menimba ilmu sehari-hari.
Demi membuat para jemaat berkumpul untuk sekadar mengisi
perut atau mengakrabkan diri dengan sesama warga gereja, pihak GKJW Sukun
membuat program bazar dan menyediakan tempat duduk layaknya pujasera atau
kantin bagi seluruh jemaatnya. Jemaat dapat mengambil jatah nasi putih yang
disediakan gereja secara cuma-cuma, sementara lauk dan minum dapat dibeli di
bazar yang dijalankan oleh ibu-ibu maupun pemuda gereja.
“Dari sini saja kita sudah mulai belajar kerukunan dengan
saudara sesama, harmoni…”
Karena Kita Satu
Suara-suara nyanyian dan puji-pujian tak hanya terdengar
dari ruang kebaktian utama gereja. Dari sisi atas dan belakang gedung juga
terdengar lantunan penuh kegembiraan yang bersumber dari ruang kebaktian anak.
Aktivitas ini biasa disebut dengan Sekolah Minggu. Anak-anak yang lucu begitu
antusias menyanyikan puji-pujian bagi Tuhan Yesus.
Melihat keceriaan dan keaktifan anak-anak yang mengikuti
peribadatan itu, tentu saja memantik rasa penasaran saya tentang apa saja yang
gereja ajarkan pada mereka. Berdasarkan keterangan dari pamongnya yang berhasil
saya dan rekan-rekan ajak berbincang, yakni Bu Ninik Kustiari dan Bu Istuning
Rahayu, selain fokus untuk belajar kerohanian, mereka juga dididik dengan
semangat toleransi pada keberagaman sesuai dengan nilai-nilai Pancasila.
“Jadi mereka sudah dididik untuk tidak memiliki rasa
fanatisme, tidak eksklusif. Mereka sudah dibiasakan untuk saling menghargai dan
menghormati sesama apapun agamanya,” jelas Bu Istuning.
Untuk itu, pengajaran yang diberikan pada Sekolah Minggu
tentang toleransi pada keberagaman telah diberikan sejak dini.
“Karena pada seusia mereka, mereka sudah bisa menerima
hal-hal dari luar. Mereka harus diperkenalkan pada kehidupan yang sebenarnya,
tidak melulu tentang kekristenan saja,” tambahnya.
Bu Ninik pun menyambung tuturan sekretarisnya itu dengan
kisah pengalamannya dalam acara kolaboratif antara GKJW dan Pondok Pesantren
Ngalah Pasuruan. Yaitu ‘Camp Remaja Lintas Iman’: Amazing Youth pada 21-23 Juni
tahun lalu. Kegiatan tersebut difokuskan untuk para pemuda gereja agar mereka
dapat mengenal lebih dekat kawan-kawan sesama penerus bangsa secara langsung.
Camp remaja itu menjadi upaya persatuan yang dipercaya dapat mematahkan isu
sensitif terkait perbedaan agama dan ras di kalangan pemuda.
Di camp yang diadakan tiga hari tersebut, banyak kegiatan
yang dilakukan remaja Islam dan Kristen untuk memupuk persatuan, di antaranya
doa kebangsaan, tanam pohon, fun games, ibadah hingga parade. Peserta sebanyak
70 pemuda Islam dan Kristen tentu saja berasal dari latar belakang yang
berbeda-beda.
“Dari keberagaman itulah, anak-anak harus tahu bahwa
sebenarnya kita semua adalah satu,” ungkap Bu Ninik.
Orang Kepercayaan Gereja
“Kenapa nih Pak, gak coba cari kerjaan lain aja gitu mungkin
yang bukan di gereja?” tanya salah seorang teman saya, mencoba untuk memulai
percakapan dengan Bapak Musa’i, yang berdasarkan cerita Pendeta Sinung dan Bu
Ninik, adalah seorang muslim yang setia mengabdikan diri sebagai pekerja GKJW
Sukun.
Pria tersebut telah bekerja untuk gereja sejak 2002, saat
gereja masih dalam tahap pembangunan awal. Mulanya, Musa’i adalah seorang kuli
bangunan dan karena kesetiaannya pada gereja maka beliau diberi mandat untuk
bekerja di sana. Bahkan beliau memboyong serta beberapa keluarganya untuk
menempati rumah di sisi bangunan gereja yang telah disediakan khusus untuknya.
“Kerja di sini sudah paling enak, mbak. Di tempat lain
susah, apalagi saya dulu rantau pindah-pindah,” demikian alasan pertama pria
paruh baya yang akrab disapa Pak Sa’i itu ungkapkan kepada saya dan
teman-teman.
Alasan berikutnya yang membuatnya betah mengabdi pada GKJW
adalah perlakuan yang warga dan pengurus gereja berikan kepadanya dan keluarga
sangatlah baik. Hubungan antara orang dalam gereja dan keluarganya terjaga
dengan harmonis.
“Tiap lebaran ya mereka berkunjung, datang semua,”
ungkapnya.
Siapa bilang dengan datang ke gereja, makan hidangannya,
menyaksikan peribadatannya ataupun bergaul dengan warganya dapat membuat kita
seketika berpindah agama? Tidak.
Dan hal itu telah dibuktikan oleh Bapak Sa’i, saat ditanya
apakah tidak ada keinginan untuk berpindah agama? Dengan tegas ia mengatakan
bahwa ini masalah keyakinan. Sejak masih kecil ia adalah muslim dan tidak ada
yang bisa mengubah itu. Beliau akan selalu teguh pada keimanannya.
“Masalah pekerjaan ya pekerjaan saja, agama lain urusannya,”
tegasnya yakin.
Dikarenakan terburu-buru untuk pergi, maka obrolan saya dan
Pak Sa’i hanya sebentar saja. Padahal masih ada beberapa pertanyaan yang ingin
saya ajukan.
“Datang lagi saja lain kali ya mbak, mampir saja jangan
sungkan,” ujarnya dengan senyuman.
Pulanglah dengan Sukacita
Dengan begitu, berakhir sudah kunjungan kami di GKJW Sukun
yang ditutup dengan foto bersama pendeta dan warga gereja. Kami
bersalam-salaman, berpamitan dan saling mengucapkan terima kasih. Waktu rasanya
berjalan begitu cepat, sehingga kesedihan karena berpisah kian merambat hebat.
Sembari menunggu angkot melaju kembali ke Hotel 1O1, tempat
kami menginap selama 4 hari, saya membuka dan membaca ulang lembaran tata
ibadah.
“Pulanglah ke rumahmu masing-masing dengan sukacita.
Bekerjalah dengan setia dan sungguh-sungguh. Ingatlah bahwa Tuhan tidak pernah
tanpa air mata. Tetapi Tuhan selalu menjanjikan kekuatan dan kemampuan hari
demi hari. Percayalah, bahwa Tuhan selalu menyertai dan memberkati hidupmu
sekalian.”
Berkunjung ke gereja tak serta merta membuat saya murtad
dari agama saya. Namun ada pelajaran mengenai perbedaan yang membutuhkan
pemaknaan. Hanya satu pemaknaan namun tak semua orang dapat terapkan; sebuah
rasa toleransi pada keberagaman.
Karena apabila benar bagimu agamamu dan bagiku agamaku,
tidak dengan bagimu hidupmu dan bagiku hidupku. Bukankah itu hanya akan memupuk
rasa ketidakpedulian yang memicu perpecahan dan penggolongan?
Mari sudahi polarisasi. Dalam jalan penuh perdamaian, semua
golongan dapat bergandengan tangan. Terlepas dari perbedaan agama yang dianut,
setidaknya satu yang membuat kita serupa: manusia dan Indonesia. []
*Rizka Ayu Kartini adalah anggota Pers Mahasiswa Siar
Universitas Negeri Malang. Ia adalah peserta workshop pers mahasiswa yang
diadakan oleh SEJUK kerja sama dengan Friedrich-Naumann-Stiftung für die
Freiheit (FNF), Kementerian Hukum dan HAM RI, Unit Aktivitas Pers Mahasiswa
(UAPM) Inovasi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang dan LPM Basic Universitas
Brawijaya pada 28 Juni – 1 Juli 2019 di Malang.
Catatan 23 Oktober 2020
Link berita :
https://sejuk.org/2019/07/09/sepetik-ikhtiar-persaudaraan-kristen-islam-di-gkjw-sukun/?fbclid=IwAR2ZhtEe_59iGUTM2p7L8_DbGcNMMeF4pmEr48HhmJMBnIn-7CEW-FLZRWs