Rabu, 28 Oktober 2020

Media massa bagi orang Jawa

 



Majalah yang dikhususkan terbit bagi komunitas Jawa, kali pertama ada pada Maret 1855, yakni Bromartani.

Berturut kemudian ada Sarotama (1911), Djawi Sraja (1914), Trikoro Darmo (1916), Papadjar (1926) dan seterusnya.

Tahun 1930-an, Balai Pustaka sekaligus menerbitkan tiga media; yang khusus bagi komunitas Jawa diberi nama Kadjawen.

Panjebar Semangat sebagai media terbesar pada zaman pendudukan Jepang, dengan oplah 13.000 eksemplar, baru beredar pada 1939. Tentu, ada banyak nama lain yang belum tersebutkan di sini.

Sebenarnya ‘GKJW’ cukuplah ‘cerdas’ dalam memandang zamannya. Kahadiran media organisasi resmi di tahun 1935 itu, bisa dibilang sebagai ‘satu langkah di depan.”

Tengoklah sejarahnya. Lewat Sidang Sinode MA di Surabaya pada Juni 1935, disepakati untuk melahirkan “DOETA” sebagai media resmi GKJW, melalui Akta No. VII. Tak perlu waktu lama, jabang bayi yang mbrojol di bulan Oktober di tahun yang sama itu berfungsi sebagai sarana pewartaan Kabar Baik, sumber informasi dan komunikasi.

“... goenanipun kangge ngijataken tekad pandjenengan ing salebetipoen panggajoeh moerih saha raketipoen patoenggilan, poenapa dene tekad sedija ngelar djajahaning keratonipoen Goesti Jesoes Kristoes.”

“ ... ing djaman engga; poenika menawi kita boten maos serat kabar, tamtoe kapedjahan wawasan. Gredja Krsiten Jawi [Wetan] betah sanget anggadahi serat kabar ingkang mitajani.”

Sayang, Natal 2008 menjadi edisi terakhirnya. Ia dihentikan oleh ‘pemiliknya’ tanpa ada pemberitahuan lebih lanjut.

#KilasSejarah
#gkjw
#MajalahDuta

 

Catatan hari ini

27 Oktober 2020

by: paseduluran kristen jawi GKJW


Romantika Media Gereja

 



Artikel ini ditulis oleh Andreas Harsono dalam situs http://www.andreasharsono.net/.../jurnalisme-warga-gereja...

Di situ tertera Tuesday, January 20, 2009.

Artinya, bulan itu, saat yang sama, media cetak GKJW kala itu (DUTA) yang jadi rujukan dan apresiasinya jadi tidak berlaku lagi. Sedih ya... 😚

Judul artikel ini adalah: "Jurnalisme Warga (Gereja)". Salah satu tulisan Seri Pendidikan Media, Komunikasi dan Kebudayaan Yakoma PGI.

Beberapa hal yang penting untuk tetap dicatat sebagai pengingat di antaranya bagian-bagian berikut. Jika ingin membacanya sendiri lebih lengkap, silakan klik tautan yang ada.

 

#######

 

Menurut Hasudungan Sirait, persoalan utama media gereja-gereja Protestan di Indonesia, baik di sebelah barat (Jawa dan Sumatera) maupun timur (Sulawesi, Sangir, Talaud, Halmahera, Ambon, Sumba dan sebagainya) adalah kekurangan perhatian dari para pemimpin sinode.

“Pengurus media pesantren hebat, sumber daya manusia berlapis-lapis, training lebih sering diadakan di kalangan pesantren. Yang bisa menyamai teman-teman Muslim hanya media Katholik,” kata Sirait.

“Kecenderungan sinode (gereja Protestan) gagah-gagahan bikin media.”

Namun alokasi biaya sedikit, tidak ada tim khusus, tidak ada guidance. “Kalau terbit ya sekali setahun atau dua kali.”

Isi media gereja-gereja Protestan, cenderung masih hanya khotbah, peletakan batu pertama atau seremoni gereja. Dari segi tata letak, umumnya tidak menarik. Kebanyakan media gereja sangat tergantung hanya pada kerajinan dan ketekunan pengurus media itu sendiri. “Kalau yang ngurus rajin, ya sering terbit, kalau tidak, ya ngacak.” Banyak pengelola media gereja mengharapkan ada kebijakan khusus dari gereja agar media dikelola sungguh-sungguh. Namun ketika pengurus media bikin terobosan sendiri, mereka sering diveto oleh sinode.

 

 ######

 

 Saya tanya Sirait, dari pengalamannya melatih media gereja, media mana saja yang tergolong baik?

“Yang paling baik GKJW Malang,” jawabnya.

“Rapi sekali mereka.”

Gereja Kristen Jawi Wetan, atau GKJW, adalah gereja Jawa timuran dengan pusat kota Malang. Mayoritas anggotanya, tentu saja, orang Jawa. Sinode gereja ini didirikan pada Desember 1931. Kini anggotanya sekitar 150,000 orang. Jumlah ini sangat kecil bila diingat Jawa Timur adalah basis Nahdlatul Ulama. Total populasi Provinsi Jawa Timur sekitar 34.5 juta dan sekitar 96 persen warga Muslim.

Sirait mengatakan ketika membaca Warta GKJW, dia merasa pengelola Warta GKJW terlihat upayanya serius melibatkan umat. Ada lembaran remaja, ada lembar orang tua, ada berita perkembangan di kitaran warga. Jufri Simorangkir juga setuju dengan kesimpulan Sirait. Simorangkir menyebut Warta GKJW mirip “majalah sekuler” … walau 80 persen isinya “soal rohani.”

 
#######

 

Dunia media sudah berubah. Kini sudah ada televisi, internet, radio komunitas, blog, You Tube, Facebook dan macam-macam. Namun mayoritas media gereja masih bergulat dengan majalah. Media gereja kurang dalam banyak hal. “Cari duit nggak susah, cari orang yang susah. (Media) Katolik jauh lebih baik,” katanya.

Media gereja Protestan, juga kurang berkembang karena ada kekuatiran di kalangan sinode, media bisa jadi bumerang. “Takut disasar. Padahal tidak juga,” kata Sirait.

Dampaknya, ada kesenjangan informasi antara gereja dan umat. Umat sangat dinamis, dapat informasi dari mana-mana. “Itu tidak bisa diimbangi gereja. Paradigma gereja tidak berubah. Mereka cenderung menapis, semacam pakai kacamata kuda.”

Kalau informasi umum juga ada di media gereja, maka gereja bisa memberitahu soal, misalnya, mengapa harga-harga bahan pangan naik atau mengapa banyak korupsi. “Gereja nggak hanya isinya khotbah soal keselamatan,” kata Sirait.

Dia berpendapat media gereja seharusnya jadi media komunitas, “Dari kita, untuk kita. Bagaimana antara jemaat gereja bisa sharing pengalaman? Itu tidak mereka dapatkan dari Kompas atau Suara Pembaruan atau Suara Merdeka.”

 

#######

 

Saya bertanya-tanya mengapa media gereja tak mencoba mengarah pada citizen journalism macam Panyingkul.com?

Panyingkul.com maupun Warta GKJW sama-sama merupakan media komunitas. Satu melayani komunitas Makassar. Satunya melayani komunitas gereja Jawa Timur. Mereka dipersatukan oleh semangat melayani warga masing-masing lewat jurnalisme.

Singkat kata, kebanyakan media, dari Immanuel hingga Suara Pembaruan, dari BBC World Service hingga Al Jazeera, melayani komunitas sesuai khayalan mereka masing-masing. Internet membuat batas khayalan menjadi lebih terbuka. Internet membuat semua orang, yang mengerti bahasa media terkait, secara teoritis bisa membaca apa isi media tersebut. Media gereja teoritis bisa mengembangkan diri lewat citizen journalism dengan melibatkan warga-warga gereja ikut mengisi media mereka.

Namun Pendeta Jufri Simorangkir memberi tanggapan. “Kelemahan majalah gereja adalah dia jadi corong pimpinan.”

Saya kira pernyataan Simorangkir, maupun kritik Sirait, mengingatkan saya bahwa media gereja kebanyakan belum menjalankan jurnalisme. Ia lebih tepat dikategorikan sebagai public relation atau propaganda. Boro-boro bicara soal citizen journalism. Jurnalisme biasa pun belum berjalan.

Propaganda adalah suatu peliputan serta penyajian informasi dimana fakta-fakta disajikan, termasuk ditekan dan diperkuat pada bagian tertentu, agar selaras dengan kepentingan kekuasaan, yang menguasai media komunikasi tersebut. Jarak propaganda dan jurnalisme bisa lebar, tapi juga bisa sangat tipis.

Jurnalisme adalah bagian dari komunikasi. Namun tak semua bentuk komunikasi adalah jurnalisme. Menyamakan propaganda dengan jurnalisme, atau menyamakan pengabaran injil dengan jurnalisme, saya kira akan menciptakan kebingungan yang serius, dengan daya rusak besar. Saya kira masalah ini perlu didiskusikan dengan jernih di kalangan gereja-gereja Protestan.

Media gereja seharusnya bekerja berdasar prinsip-prinsip jurnalisme umum. Bukan berdasarkan pada theologi Kristen. Bukan berdasar pula pada pendekatan gothak-gathok “jurnalisme Kristiani.” Saya harus menyebut isu ini karena belakangan ada saja orang yang mencoba menawarkan apa yang disebut sebagai “jurnalisme Islami.” Jargon-jargon ini akan menciptakan kekaburan. Kalau jurnalisme dikaitkan dengan pemahaman lain, entah itu fasisme, komunisme, kapitalisme atau agama apapun, definisi yang lebih tepat, saya kira, adalah propaganda.

Media gereja seyogyanya dipikirkan lebih luas untuk kepentingan umat. Ia lebih baik diletakkan secara independen dari struktur sinode. Para redakturnya tidak ikut duduk dalam kepengurusan sinode.

Namun saya juga sadar bahwa tidak semua orang, termasuk pengelola media gereja, bisa punya pemahaman yang serius terhadap suatu isu, apalagi banyak isu. Ini juga terjadi dalam dunia wartawan mainstream. Namun inilah tantangan rutin bagi setiap wartawan, profesional maupun amatir, dalam memahami suatu isu dan menuliskannya. Para pemimpin sinode sudah selayaknya mulai belajar memahami jurnalisme dan mengubah cara pandang mereka terhadap media gereja. Propaganda sebaiknya diubah jadi jurnalisme.

 

 #######

 

Kolaborasi

Internet banyak mengubah tatanan. Mari gunakan dengan sebaiknya. Mari pula untuk terus bekerja bersama dan bersama-sama bekerja.

Halaman komunitas ini dibuat salah satunya sebagai jembatan informasi dan komunikasi bersama.

Mari saling mengapresiasi. Minimal saling berbagi kabar dan informasi.

Tuhan memberkati...

 

Catatan hari ini

27 Oktober 2020

by: paseduluran kristen jawi GKJW

Blog dan Dunia Literasi Mandiri

 

 

Hari ini , 27 Oktober, para penulis atau konten kreator yang memanfaatkan jalur besutan google, memperingatinya sebagai Hari Blogger Nasional.

Hari Blogger Nasional pertama kali dicanangkan Menteri Komunikasi dan Informatika RI, Muhammad Nuh, pada 27 Oktober 2007 pada pembukaan Pesta Blogger tahun itu.

Empat tahun berselang, Pesta Blogger telah berubah menjadi event On Off Indonesia (OnOffID).

Jika pada awalnya Pesta Blogger hanya berfokus kepada pesta akbar pertemuan para blogger se-Indonesia, maka lambat laun konsep tersebut mulai dikombinasikan dengan unsur bisnis.

Sejak mengalami perubahan nama menjadi OnOffID, pesta blogger mulai menekankan pentingnya para blogger untuk bisa mengelola blog lebih serius, agar bisa menghasilkan sesuatu yang lebih bermanfaat. Bisa menjadi sumber penghasilan, memperluas jaringan pertemanan, dan lainnya.

Jadi, Blog tak lagi menjadi tempat curahan hati individu, tapi juga bisa menjadi tempat untuk membuka peluang bisnis di dunia nyata.

Secara global, blog adalah singkatan dari web log, yakni bentuk aplikasi web yang menyerupai tulisan-tulisan (yang dimuat sebagai posting) pada sebuah halaman web umum.

Media blog pertama kali diperkenalkan oleh Blogger.com dari PyraLab, yang kemudian diakuisisi Google pada tahun 2002. Dilansir dari The Guardian, PyraLab juga dibeli Google dengan nilai yang tidak diungkapkan pada 15 Februari 2003, setelah empat bulan negosiasi. Dan sejak itu, banyak aplikasi-aplikasi yang bersifat terbuka, yang membantu para blogger mengembangkan blog yang dimiliki.

Blog menjadi semakin populer di Indonesia, ketika banyak orang yang kemudian menjadi terkenal hanya karena hobi menulis blog. Ambil contoh Raditya Dika. Karena menulis blog, Raditya Dika menjadi pemenang Indonesian Blog Award dan The Online Inspiring Awards 2009 oleh Indosat. Dari penghargaan tersebut, ia memberanikan diri mencetak isi blog-nya dan buku pertama terbit dengan judul Kambing Jantan. Buku ini merupakan catatan hariannya yang selama ini ditulis di blog kemudian dibukukan dan mendapat penjualan terbaik dalam skala nasional. Cerita dalam buku itu juga kemudian diangkat ke dalam film dengan judul yang sama dan dibintangi sendiri oleh Raditya Dika.

 

Terus Meningkat

Dalam data "Social Media Landscape" yang dikeluarkan salingsilang.com, jumlah pengguna blogger di Indonesia mencapai 4, 1 juta pada Februari 2011. Sebanyak 80,65 persen menggunakan blogspot.com (blogger.com) dan 14,5 persen menggunakan Wordpress. Sisanya menggunakan layanan lain.

Melansir Antara, jumlah blogger di Indonesia hanya 3,5 persen dari 88,1 juta pengguna internet di Tanah Air, sebagaimana diutarakan Matahari Timoer, blogger senior sekaligus Ketua Blogger Camp 2015 pada Oktober 2015.

Jumlah itu meningkat pada tahun 2017, seperti disampaikan Jack Huang, President of Overseas Business, UCWeb, Alibaba Mobile Business Group kepada situs web Marketing. Menurutnya, sekitar 3,8% (sekitar 3 juta) dari total pengguna internet aktif di Indonesia adalah blogger.

Dari masa ke masa, blog di Indonesia menjadi semakin populer. Dalam mengelola blog dibutuhkan keseseriusan terutama dalam mengangkat tema yang diangkat.

Blog kini sudah semakin berkembang. Secara tata kelolanya pun mengalami perkembangan yang lebih professional.

Mengelola blog tak lagi cukup dikelola oleh satu individu. Dalam mengelola blog yang besar dan sukses umumnya dikelola oleh beberapa orang. Dibutuhkan penulis atau kontributor sendiri yang aktif mengisi blog.

Selain itu, kini konsep blog di Indonesia juga mulai dikombinasikan dengan sosial media. Blog menjadi sarana jurnalisme warga, sekaligus wadah untuk menjalin jejaring sosial dengan sesama penulis di kanal yang sama.

 

Refleksi

Terus, bagaimana dengan gereja sendiri?

Apakah potensi-potensi individual itu dibiarkan begitu saja...?

Sungguh sayang...

 

Catatan hari ini

27 Oktober 2020

by:paseduluran kristen jawi GKJW


*) sumber diambil dari kompas.com dan tirto.id

Selamat memasuki Pekan Pemuda 2020 GKJW



 

 Tahun ini, Pekan Pemuda GKJW (22-28 Oktober 2020) mengambil tema “BERGAS – Berkarya, Bergaya, Ber-asa dalam Kristus”.

Tema ini menggambarkan bahwa Pemuda GKJW memiliki tanggungjwab besar dalam “laku” hidupnya.

Berkarya seperti Kristus dalam hal pelayanan, dalam hal gaya dan karakter hidup Kristen dan senantiasa bersandar dalam asa yang mengarah kepada Kristus.

Berikut cuplikan kegiatan yang ada di Jemaat. Pengambilan dilakukan secara acak. Silakan menonton video di Jemaat masing2 jika ingin tau secara utuh.

Salam sehat selalu nggih sedulur semua....
Gusti mberkahi

 

Catatan Minggu

26 Oktober 2020

by: Admin


 

Link video:

https://www.youtube.com/watch?v=fBSylWe4cEU&feature=youtu.be&fbclid=IwAR2fl1QYGXdqhwy6BfNZ9pHKjVVzGHR5ATaCOHR-MqFk_h2eTAZot1Um3ug

Perspektif Toleransi (2) - Mewartakan Kabar Baik


Kebanyakan warganet kalau dikasih link atau tautan berita sumber asal, kebanyakan tidak dibaca. Tapi kolom komen full dengan aneka macam tulisan. Pernah kan menemui seperti ini... 😀

Daripada seperti itu, sekalian saja dikutipkan lengkap sebagai pembanding dari kabar sebelum ini. Berikut tulisan lengkap yang diambil dari :

https://sejuk.org/.../sepetik-ikhtiar-persaudaraan.../

Cara pandang "liyan" terhadap kita. Sebenarnya seperti apa yang terjadi sehingga keberbedaan justru merapuhkan semangat kebhinnekaan kita.

Tulisan ini lumayan panjang. Tapi yang nulis pinter. Salut...

 

##########

 

Sepetik Ikhtiar Persaudaraan Kristen-Islam di GKJW Sukun

 

“Siapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk bagian dari mereka.”

Sebuah pertanyaan, muslim mana yang tidak mengenal baris hadits di atas?

Hadits yang biasanya naik pamor dan dijadikan penguat argumen manakala perdebatan menyoal tradisi ucapan selamat Natal dan tahun baru menyeruak di kalangan masyarakat Indonesia tiap penghujung tahun.

Begitu pula bagi saya, hadits tersebut menjadi sangat familiar berkelindan dalam kehidupan sehari-hari sejak kecil hingga kini. Tentu saja beriringan dengan penggalan ayat surat Al-Kafiruun yang juga tak kalah populer, “Bagimu agamamu dan bagiku agamaku”.

Layaknya segala firman Allah yang selama ini umat muslim termasuk saya sendiri baca, pelajari dan amalkan, semuanya tentu saja berbahasa Arab dan tersedia terjemahan dalam Bahasa Indonesia. Namun tafsiran ayat maupun hadits tentu saja bukan hal seremeh membuka bungkus permen kemudian menelan isinya begitu saja. Dibutuhkan ilmu dan pemahaman khusus yang tentu saja membutuhkan kajian yang bersinggungan dengan sudut pandang sosial dan budaya masyarakat kita yang heterogen.

Saya tak hendak mengkaji tafsir dua kalimat fenomenal di atas. Hanya saja, hal tersebut benar-benar mengepung pemikiran saya manakala pagi tadi (30/6) di hari Minggu saat Kota Malang sedang dingin-dinginnya. Saya dan beberapa kawan bertandang ke Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW), sebuah rumah peribadatan bagi teman-teman Kristen yang terletak di Kecamatan Sukun.

Dinginnya udara pagi yang seolah menggigit kulit seketika berangsur menghangat begitu saya dan rombongan dari Serikat Jurnalis Keberagaman (Sejuk) tiba di halaman gereja. Satu per satu menuruni angkot memasuki GKJW. Seorang jemaat, bapak paruh baya dengan pakaian rapih, tersenyum hangat menyalami kami satu per satu. Tanpa rasa canggung maupun rasa keterpaksaan. Seorang ibu bahkan menawarkan teh hangat pada saya dan beberapa kawan, lagi-lagi dengan tingkat keramahan yang tidak dibuat-buat

Matahari berangsur meninggi dan mulai tampak berkilauan di langit timur. Jarum jam mengarah pada pukul 7 tepat. Jemaat mulai memadat. Semua tampak taat dan khidmat. Setelah menerima lembaran tata ibadah, saya mencoba untuk membaur dalam barisan jemaat. Seorang perempuan muda sempat menawarkan lembaran tata ibadahnya karena sempat mengira saya tidak kebagian, ia menawarkan dengan ramah dan senyum yang hangat.

Kemudian saya pun mulai mengikuti proses kebaktian. Ketika jemaat berdiri saya turut berdiri, meyesuaikan dengan apa yang tertera pada tata ibadah. Saat itu pula terlintas beberapa hal, ragam pikiran yang konservatif dan fanatik tentang agama yang penuh dengan prasangka dan selama ini pernah bercokol dalam diri saya.

Ya, setidaknya sebelum saya mulai membaca banyak literasi, mengikuti diskusi, menjalin relasi dengan teman-teman Kristen. Ada sebuah pemikiran bahwa terlarang dan haram hukumnya untuk umat muslim pergi ke rumah ibadah umat agama lain. Apalagi mengikuti prosesi ibadahnya dan memakan sajian hidangannya. Benarkah pergi ke gereja, mengikuti rangkaian ibadah dan berinteraksi dengan umat agama lain akan serta merta membuat saya menjadi Kristen?

Setelah beberapa saat melakoni proses kebaktian, saya mencoba untuk berkeliling, melihat ke sekitar gereja. Mencari hal menarik yang bisa saya pelajari untuk dikemas menjadi tulisan. Barangkali juga beberapa jawaban atas kecamuk dalam batin saya.

Kunjungan peserta workshop pers mahasiswa SEJUK ke Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) Sukun 30/07/2019)

Harmoni dalam Persaudaraan Sejati

“Ayo tambah lagi nasinya!”

“Itu lauknya sedikit sekali?”

“Ayo ayo makan yang banyak ya, maaf ya seadanya saja …”

Begitulah yang ibu-ibu penyambut tamu ucapkan berkali-kali dengan senyum sumringah saat memberi kami hidangan sarapan pagi di belakang gereja. Empat meja tertata rapi, beberapa gelas teh diletakkan di atasnya. Saya dan kedua rekan pun menikmatinya sembari berbincang dengan Pendeta Sinung Mawanto. Obrolan mengalir begitu saja diselingi dengan kelakar khas beliau. Dari beliau pula saya mendapatkan informasi tentang program Kelas Lintas Iman yang GKJW sering selenggarakan.

“Karena hidup dengan damai adalah keinginan semua orang, perdamaian antar umat beragama akan menjadikan kerajaan surga di dunia,” ucap Pendeta Sinung sembari menyesap kopi hitamnya.

Beliau mengatakan Kelas Lintas Iman ingin mencapai terciptanya persaudaraan sejati, sebuah hubungan yang tidak semata didasari oleh kepentingan, namun untuk mencapai sebuah tujuan. Satu tujuan yang sejalan, yaitu perdamaian. Beliau mengatakan bahwa GKJW Sukun juga memiliki relasi yang baik dengan Gusdurian Malang.

Pak Sinung beberapa kali juga menggunakan ponselnya untuk memotret suasana perjamuan di tengah obrolan kami. Kemudian menunjukkan hasil potretnya kepada saya.

“Entah saya saja atau gimana, tapi tiap melihat suasana seperti ini saya sangat senang dan nyaman. Mbak bagaimana?” tanyanya, pandangannya beliau edarkan menyapu setiap penjuru keramaian yang dipenuhi manusia.

Jemaat yang sedang menyantap hidangan dengan keluarga dan temannya, tamu yang tertawa dengan wajah gembira, pemuda yang melayani di bazar, remaja yang memberikan hiburan dengan permainan musik, hingga lalu-lalang anak kecil bermain dengan riang bersama. Tak bisa dipungkiri, nuansa yang bagi saya mirip lebaran dan biasa saya temukan saat pulang ke kampung halaman di bulan Syawal, ternyata dapat saya jumpai setiap akhir pekan di tempat yang tak jauh dari pusat kota tempat saya menimba ilmu sehari-hari.

Demi membuat para jemaat berkumpul untuk sekadar mengisi perut atau mengakrabkan diri dengan sesama warga gereja, pihak GKJW Sukun membuat program bazar dan menyediakan tempat duduk layaknya pujasera atau kantin bagi seluruh jemaatnya. Jemaat dapat mengambil jatah nasi putih yang disediakan gereja secara cuma-cuma, sementara lauk dan minum dapat dibeli di bazar yang dijalankan oleh ibu-ibu maupun pemuda gereja.

“Dari sini saja kita sudah mulai belajar kerukunan dengan saudara sesama, harmoni…”

Karena Kita Satu

Suara-suara nyanyian dan puji-pujian tak hanya terdengar dari ruang kebaktian utama gereja. Dari sisi atas dan belakang gedung juga terdengar lantunan penuh kegembiraan yang bersumber dari ruang kebaktian anak. Aktivitas ini biasa disebut dengan Sekolah Minggu. Anak-anak yang lucu begitu antusias menyanyikan puji-pujian bagi Tuhan Yesus.

Melihat keceriaan dan keaktifan anak-anak yang mengikuti peribadatan itu, tentu saja memantik rasa penasaran saya tentang apa saja yang gereja ajarkan pada mereka. Berdasarkan keterangan dari pamongnya yang berhasil saya dan rekan-rekan ajak berbincang, yakni Bu Ninik Kustiari dan Bu Istuning Rahayu, selain fokus untuk belajar kerohanian, mereka juga dididik dengan semangat toleransi pada keberagaman sesuai dengan nilai-nilai Pancasila.

“Jadi mereka sudah dididik untuk tidak memiliki rasa fanatisme, tidak eksklusif. Mereka sudah dibiasakan untuk saling menghargai dan menghormati sesama apapun agamanya,” jelas Bu Istuning.

Untuk itu, pengajaran yang diberikan pada Sekolah Minggu tentang toleransi pada keberagaman telah diberikan sejak dini.

“Karena pada seusia mereka, mereka sudah bisa menerima hal-hal dari luar. Mereka harus diperkenalkan pada kehidupan yang sebenarnya, tidak melulu tentang kekristenan saja,” tambahnya.

Bu Ninik pun menyambung tuturan sekretarisnya itu dengan kisah pengalamannya dalam acara kolaboratif antara GKJW dan Pondok Pesantren Ngalah Pasuruan. Yaitu ‘Camp Remaja Lintas Iman’: Amazing Youth pada 21-23 Juni tahun lalu. Kegiatan tersebut difokuskan untuk para pemuda gereja agar mereka dapat mengenal lebih dekat kawan-kawan sesama penerus bangsa secara langsung. Camp remaja itu menjadi upaya persatuan yang dipercaya dapat mematahkan isu sensitif terkait perbedaan agama dan ras di kalangan pemuda.

Di camp yang diadakan tiga hari tersebut, banyak kegiatan yang dilakukan remaja Islam dan Kristen untuk memupuk persatuan, di antaranya doa kebangsaan, tanam pohon, fun games, ibadah hingga parade. Peserta sebanyak 70 pemuda Islam dan Kristen tentu saja berasal dari latar belakang yang berbeda-beda.

“Dari keberagaman itulah, anak-anak harus tahu bahwa sebenarnya kita semua adalah satu,” ungkap Bu Ninik.

Orang Kepercayaan Gereja

“Kenapa nih Pak, gak coba cari kerjaan lain aja gitu mungkin yang bukan di gereja?” tanya salah seorang teman saya, mencoba untuk memulai percakapan dengan Bapak Musa’i, yang berdasarkan cerita Pendeta Sinung dan Bu Ninik, adalah seorang muslim yang setia mengabdikan diri sebagai pekerja GKJW Sukun.

Pria tersebut telah bekerja untuk gereja sejak 2002, saat gereja masih dalam tahap pembangunan awal. Mulanya, Musa’i adalah seorang kuli bangunan dan karena kesetiaannya pada gereja maka beliau diberi mandat untuk bekerja di sana. Bahkan beliau memboyong serta beberapa keluarganya untuk menempati rumah di sisi bangunan gereja yang telah disediakan khusus untuknya.

“Kerja di sini sudah paling enak, mbak. Di tempat lain susah, apalagi saya dulu rantau pindah-pindah,” demikian alasan pertama pria paruh baya yang akrab disapa Pak Sa’i itu ungkapkan kepada saya dan teman-teman.

Alasan berikutnya yang membuatnya betah mengabdi pada GKJW adalah perlakuan yang warga dan pengurus gereja berikan kepadanya dan keluarga sangatlah baik. Hubungan antara orang dalam gereja dan keluarganya terjaga dengan harmonis.

“Tiap lebaran ya mereka berkunjung, datang semua,” ungkapnya.

Siapa bilang dengan datang ke gereja, makan hidangannya, menyaksikan peribadatannya ataupun bergaul dengan warganya dapat membuat kita seketika berpindah agama? Tidak.

Dan hal itu telah dibuktikan oleh Bapak Sa’i, saat ditanya apakah tidak ada keinginan untuk berpindah agama? Dengan tegas ia mengatakan bahwa ini masalah keyakinan. Sejak masih kecil ia adalah muslim dan tidak ada yang bisa mengubah itu. Beliau akan selalu teguh pada keimanannya.

“Masalah pekerjaan ya pekerjaan saja, agama lain urusannya,” tegasnya yakin.

Dikarenakan terburu-buru untuk pergi, maka obrolan saya dan Pak Sa’i hanya sebentar saja. Padahal masih ada beberapa pertanyaan yang ingin saya ajukan.

“Datang lagi saja lain kali ya mbak, mampir saja jangan sungkan,” ujarnya dengan senyuman.

Pulanglah dengan Sukacita

Dengan begitu, berakhir sudah kunjungan kami di GKJW Sukun yang ditutup dengan foto bersama pendeta dan warga gereja. Kami bersalam-salaman, berpamitan dan saling mengucapkan terima kasih. Waktu rasanya berjalan begitu cepat, sehingga kesedihan karena berpisah kian merambat hebat.

Sembari menunggu angkot melaju kembali ke Hotel 1O1, tempat kami menginap selama 4 hari, saya membuka dan membaca ulang lembaran tata ibadah.

“Pulanglah ke rumahmu masing-masing dengan sukacita. Bekerjalah dengan setia dan sungguh-sungguh. Ingatlah bahwa Tuhan tidak pernah tanpa air mata. Tetapi Tuhan selalu menjanjikan kekuatan dan kemampuan hari demi hari. Percayalah, bahwa Tuhan selalu menyertai dan memberkati hidupmu sekalian.”

Berkunjung ke gereja tak serta merta membuat saya murtad dari agama saya. Namun ada pelajaran mengenai perbedaan yang membutuhkan pemaknaan. Hanya satu pemaknaan namun tak semua orang dapat terapkan; sebuah rasa toleransi pada keberagaman.

Karena apabila benar bagimu agamamu dan bagiku agamaku, tidak dengan bagimu hidupmu dan bagiku hidupku. Bukankah itu hanya akan memupuk rasa ketidakpedulian yang memicu perpecahan dan penggolongan?

Mari sudahi polarisasi. Dalam jalan penuh perdamaian, semua golongan dapat bergandengan tangan. Terlepas dari perbedaan agama yang dianut, setidaknya satu yang membuat kita serupa: manusia dan Indonesia. []

*Rizka Ayu Kartini adalah anggota Pers Mahasiswa Siar Universitas Negeri Malang. Ia adalah peserta workshop pers mahasiswa yang diadakan oleh SEJUK kerja sama dengan Friedrich-Naumann-Stiftung für die Freiheit (FNF), Kementerian Hukum dan HAM RI, Unit Aktivitas Pers Mahasiswa (UAPM) Inovasi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang dan LPM Basic Universitas Brawijaya pada 28 Juni – 1 Juli 2019 di Malang.

 

Catatan 23 Oktober 2020

Link berita :
https://sejuk.org/2019/07/09/sepetik-ikhtiar-persaudaraan-kristen-islam-di-gkjw-sukun/?fbclid=IwAR2ZhtEe_59iGUTM2p7L8_DbGcNMMeF4pmEr48HhmJMBnIn-7CEW-FLZRWs

 


 

Perspektif Toleransi (1) - Menyambut Liyan

 



Menyambung tema sebelumnya kemarin, sebelum beralih ke topik lain.

Berikut share kisah, masih dari Kabupaten Jombang. Semoga "cita-cita" dari Jemaat Bongsorejo dapat terwujud. Begitupun dengan kisah soal mewujudkan harmoni antar umat beragama.

 

###########

 

GENERASI TOLERANSI

Beberapa hari ini kita sudah trending topic tentang omnibus law.

Hari inipun juga kami berjuang... Berjuang untuk mewujudkan bahwa masing-masing mempunyai hak yang sama dalam pendidikan.

Berproses dalam mewujudkan TK khusus karena di lingkungan khusus membuat dua tahun ini rasanya tanpa hasil. Niat dan berjuang harus terus menyala.

Akhirnya kami memulai kembali proses perijinan dan menemukan seseorang pengawas TK dengan jiwa nasionalis. Meski beragama muslim.

"Setiap anak wajib mendapatkan pendidikan. Dan saya siap memberi rekomendasi." Itu adalah penjelasan yang menjadikan angin segar bagi kami pengurus untuk terus berjuang.

Setelah pemeriksaan tertib administrasi dan " padang bulan di siang hari" kami harus mengakhiri pertemuan ini.

Setelah dua hari ini bekerja keras dengan pengurus, guru dan wali murid... rasanya tubuh ini perlu memanjakan diri dengan rebahan.
🧞‍♂️🧞‍♂️🧞‍♂️

Rebahan ini rupanya tersapa dengan hangatnya sang surya yang menuntun para remaja. Tak ku kenal siapa mereka. Aku hanya memperhatikan mereka memakai hijab.

"Ibuk.. bisakah membantu kami.." tanya mereka memelas.

"Ya, donk... hayukk sini masuk saja. Kita lesehan saja ya biar santuy".
Ku ajak masuk sekitar 10 siswi berseragam.

Singkat cerita, rupanya mereka mendapat tugas dari sekolah mapel sejarah. Memang gereja tempat kami spot bagus buat foto dan gedung yang bersejarah.

Dan sengaja aku belum mengajak mereka masuk ke gedung gereja. Menunggu inisiatif mereka dan ...
"Ibu bolehkah kami masuk ke gereja..?"

Good feel 🤭 "Iyess.. hayuk" jawabku. Dan benar, mereka bilang pertama kali masuk ke gereja.

Lihat ketakutan, keseruannya, ... mereka berani keluar dari zona nyaman. Mereka sudah memulai sebagai generasi toleransi.
Ketika akhir-akhir ini intoleransi terjadi di sekitar kita.
Berharap semakin melimpah generasi yang membuka diri dalam perbedaan.

Eh jadi ingat.. teman remaja itu sekolah dimana y... 😅😅

Theology of love
Theology of historical
Theology of tolerance

 

Catatan 23 Oktober 2020

(Tri Kridhaningsih)
*) pendeta Jemaat Bongsorejo

Catatan Sejarah tentang GKJW dan Gus Dur

 


Tulisan sedulur berikut semoga bisa menambah wawasan, khususnya buat generasi milenial yang tak pernah bersua langsung kepada penggagas harmoni antar umat beragama.

Semoga jadi berkah bagi kita semua, mengingat kondisi negeri ini yg makin 'ngeri' dengan adanya kelompok-kelompok antitoleransi yang tak kunjung henti beraksi.

Tetaplah bersahabat baik dengan semua orang di negeri yang majemuk ini.

Selamat malam...

Salam damai buat semua sedulur dalam anggota komunitas ini.

Tuhan memberkati... 

😊

 

#########

 

PERSAUDARAAN SEJATI

Hari ini bulan Mei di Surabaya, 2 tahun lalu. Di sudut kota semarak spanduk bertulis khas Suroboyo seperti, 'Suroboyo Wani, Iki Suroboyo Cok, Teroris Jancok," dll.

Ini ungkapan kemarahan atau empati warga Surabaya setelah beberapa Gereja di bom.

Saya jadi teringat 24 tahun lalu, di kota sama. Sama Hari Minggu, 9 Juni 1996.

Waktu itu pas Riyaya Undhuh Undhuh di gereja Gubeng. Ada kabar pembakaran rumah2 ibadah di daerah Sidotopo.

Saya ambil motor, beberapa menit sampai sana. Ternyata berita itu benar. Ternyata tempat lain sejenis, senasib hancur tanpa sebab.

Hoax bahasa sekarang, seperti bensin menyulut cepat tanpa konfirmasi benar tidaknya. Persis awal kerusuhan Situbondo, 10 Oktober 1996.

Setelah peristiwa berdarah Situbondo, Abdurrahman Wahid atau Gus Dur yang saat itu menjabat ketua PBNU langsung ke sana. Berbela sungkawa atas kejadian tersebut. Termasuk sahabatnya, Prof. Wismoady Wahono, ketua Sinode GKJW yang gereja turut terkena.

Ternyata Gus Dur dan Wismoady telah lama saling kenal.

"Pendeta Dr. Wismoady Wahono pada tahun 1974 mendapat tamu. Memperkenalkan diri sebagai Abdurrahman Wahid dari Pesantren Tebu Ireng. Tamu itu minta di kenalkan dengan para tokoh GKJW".

Demikian tulisan Salahudin Wahid di Kompas 25 September 2012 dalam "Seribu Hari Gus Dur."

Waktu itu, Gus Dur tinggal di Pesantren Denanyar Jombang sebagai Sekretaris Pesantren Tebu Ireng. Sedang Wismoady tinggal di Bale Wiyata Malang sebagai direkturnya.

Dengan senang hati Wismoady mengantar Gus Dur keliling Jawa Timur, sesuai permintaannya. Bahkan beberapa kali Wismoady meminta Gus Dur sebagai dosen tamu di IPTH Bale Wiyata. Program Mahasiswa 'live in' di pondok pesantren, begitu pula sebaliknya dilakukan.

Setelah peristiwa Situbondo, mereka berdua mengajak dari Katholik, Hindu, Budha, sampai kepercayaan bertemu. Lahirlah PERSAUDARAAN SEJATI yang dicetuskan Gus Dur.

Tahun 2002 menyusun proposal, Pro-Eksistensi. Untuk mewujudkan nilai Persaudaraan Sejati secara aktif.

Sayangnya 28 September 2002 Wismoady Wahono meninggal dunia. Kelanjutan proposal mangkrak. Terlebih lagi 30 Desember 2009, Gus Dur wafat.

Paling tidak mereka berdua telah menunjukkan persaudaraan Sejati selama hidupnya. Tidak sekedar teori, hanya berbicara di forum yang katanya kerukunan. Apalagi bermodal materai enam ribu.

Mereka melakukan tindakan nyata. Dan saya merindukan orang seperti ini.

 

Catatan 22 Oktober 2020

(Hadiyanto)




Hari Raya Kabar Sukacita (Feast of The Annunciation)

  Sama seperti di awal pekan bulan Maret lalu saat kita memperingati Rabu Abu. Di pekan penutup bulan ini, sebenarnya gereja juga memili...