Majalah yang dikhususkan terbit bagi komunitas Jawa, kali pertama ada pada Maret 1855, yakni Bromartani.
Berturut kemudian ada Sarotama (1911), Djawi Sraja (1914), Trikoro Darmo (1916), Papadjar (1926) dan seterusnya.
Tahun 1930-an, Balai Pustaka sekaligus menerbitkan tiga media; yang khusus bagi komunitas Jawa diberi nama Kadjawen.
Panjebar Semangat sebagai media terbesar pada zaman pendudukan Jepang, dengan oplah 13.000 eksemplar, baru beredar pada 1939. Tentu, ada banyak nama lain yang belum tersebutkan di sini.
Sebenarnya ‘GKJW’ cukuplah ‘cerdas’ dalam memandang zamannya. Kahadiran media organisasi resmi di tahun 1935 itu, bisa dibilang sebagai ‘satu langkah di depan.”
Tengoklah sejarahnya. Lewat Sidang Sinode MA di Surabaya pada Juni 1935, disepakati untuk melahirkan “DOETA” sebagai media resmi GKJW, melalui Akta No. VII. Tak perlu waktu lama, jabang bayi yang mbrojol di bulan Oktober di tahun yang sama itu berfungsi sebagai sarana pewartaan Kabar Baik, sumber informasi dan komunikasi.
“... goenanipun kangge ngijataken tekad pandjenengan ing salebetipoen panggajoeh moerih saha raketipoen patoenggilan, poenapa dene tekad sedija ngelar djajahaning keratonipoen Goesti Jesoes Kristoes.”
“ ... ing djaman engga; poenika menawi kita boten maos serat kabar, tamtoe kapedjahan wawasan. Gredja Krsiten Jawi [Wetan] betah sanget anggadahi serat kabar ingkang mitajani.”
Sayang, Natal 2008 menjadi edisi terakhirnya. Ia dihentikan oleh ‘pemiliknya’ tanpa ada pemberitahuan lebih lanjut.
#KilasSejarah
#gkjw
#MajalahDuta
Catatan hari ini
27 Oktober 2020
by: paseduluran kristen jawi GKJW
Tidak ada komentar:
Posting Komentar