Selasa, 20 Oktober 2020

Aja Gumunan, Aja Kagetan



Orang pindah agama saja, sudah heboh.... Apalagi jika ia artis, atlet, atau publik figur lain yang sedang nge-top. Wah... beritanya bisa berhari-hari, berminggu-minggu, bahkan bisa saja lebih dari itu.
 
Woowww.... seakan tak ada yang lebih penting ketimbang “nyinyir” untuk terus mengobrak-abrik hak individual warga negara. Tapi itulah wajah dunia pemberitaan masa kini.Satu orang, seakan begitu berharganya....
 
*******
 
Kruger Muller, Dr.Th. adalah penulis buku "Sedjarah Geredja di Indonesia". Buku yang awal terbit sekitar dasawarsa 1960-an, hingga kini masih tetap laris menjadi buku “wajib” bagi para mahasiswa yang mengambil jurusan sejarah atau teologi. Memang dibilang usang, tapi itulah kenyataannya...
 
Dari penelusurannya terhadap pertumbuhan orang-orang Kristen, khususnya yang terjadi di Jawa Timur, setidaknya jika dibagi berdasarkan urutan waktu, meliputi:
(1) 1845-1860 ada di daerah sekitaran aliran Kali Brantas (Mojokerto)
(2) 1860-1885 ada di daerah-daerah sekitar sentral Brantas (Kediri)
(3) 1885-1910 ada di sebelah selatan Malang (kawasan Malang Selatan)
(4) 1910-1935 menyeluruh ke sebelah timur dan sepanjang pantai selatan Jawa. 
 
Perkembangan Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) sendiri hingga akhir tahun 1899 terdapat nama Mojowarno, dan delapan Jemaat lainnya. Ada Bongsorejo, Kertorejo, Ngoro, Segaran, Guyungan, Wiung, Pule dan Surabaya. 
 
Di daerah Malang, perkembangan GKJW diawali di Swaru (1857), Peniwen (1880), Wonorejo-Bantur (1887), Podokrejo (Sitiarjo), Tambakrejo, Sumberagung. 
 
Di karesidenan Kediri, perkembangan GKJW diawali di Maron-Blitar (1851), Purworejo-Wates (1894), Sindurejo Wonosari, Bulusari, Tulungagung, Banjarejo, Jatiwringin, Tunglur dan Gedangan. 
 
Di daerah Besuki, diawali dari Tunjungrejo (1897), Tulungrejo (1911), Purwodadi (1915), Ranurejo (1922), Wonorejo (1926), Sidomulyo (1929), Jember (1931), Purwosari (1933) 
 
Pertumbuhan dan perkembangan dari tiap Jemaat itu ada yang ‘jiwa per jiwa’. Tapi ada juga mereka yang “bedol iman” hingga satu satu dukuh, dusun atau desa.
 
Tidak ada yang perlu digembar-gemborkan kala itu. Berjalan “biasa-biasa saja”. Hanya rasa syukur semata. Tetapi justru itulah, karya Tuhan menjadi “luar biasa”. 
 
Pertobatan massal tetap menjadi hal yang patut disyukuri. Cita-cita membangun komunitas sendiri sesuai prinsip iman yang baru “di dalam Sang Kristus” menjadi spirit yang tak terelakkan.
“Suangar tenan to waktu itu...”😊
 
Tentu, tanpa kehadiran dan penyertaan Roh Kudus yang membimbing, semua itu tak akan bisa terwujud.
 
Maka, tetaplah bersukacita dan tidak perlu euforia. Sewajarnya, biar tidak menjadi ‘batu sandungan’ setelahnya. Justru, sebisa mungkin jadi ‘batu lompatan’ yang lebih baik ke depannya.
 
“Nah, begitulah juga di surga ada kegembiraan yang lebih besar atas satu orang berdosa yang bertobat, daripada atas sembilan puluh sembilan orang yang sudah baik dan tidak perlu bertobat." (TB-BIS)
 
Mari kita dukung dan beri support buat mereka yang baru memulai langkah menjadi pengikut Kristus. Dan buat yang lama-lama, gas teruuss, jangan sampai kendor ya iman kepercayaan itu....
 
Selamat hari Minggu
Salam bahagia selalu
Gusti mberkahi....
 
 
 
Catatan Minggu
27 September 2020
 
by: Admin

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Hari Raya Kabar Sukacita (Feast of The Annunciation)

  Sama seperti di awal pekan bulan Maret lalu saat kita memperingati Rabu Abu. Di pekan penutup bulan ini, sebenarnya gereja juga memili...