Selasa, 20 Oktober 2020

TETAPLAH BERSUKACITA dan BERSUKACITALAH SENANTIASA


 

Perjamuan Kudus di era pandemi.

Memang, agak membingungkan...
 
Pada satu sisi, perjamuan kudus adalah sakramen suci yang wajib dilaksanakan oleh gereja. Tetapi di sisi lain, gereja juga bertanggung jawab atas nilai-nilai kemanusiaan.
 
Jika gereja ngotot untuk tetap melaksanakan, namun di sisi lain, terdapat risiko bahaya penularan wabah penyakit, maka itu akan menjadi bumerang. Gereja bisa jadi kluster baru. Bukannya membantu, tapi malah buat pemicu.
 
Maka, perlu sikap kehati-hatian. Terutama pula dalam rujukan aspek teologis dan warisan tradisi gerejawi.
 
#######
 
Pada awal musim pandemi dulu, terkait dengan masa Paskah, MPH PGI telah memulainya dengan memberikan tiga alternatif pada anggotanya.
 
1. Menunda Perjamuan Kudus hingga masalah pandemi COVID-19 usai
 
Dalam kondisi darurat dan krisis saat ini, umat Kristen harus tetap tinggal di rumah masing-masing dan tidak berkumpul bersama di gedung gereja. Dalam situasi seperti ini, sebaiknya pelaksanaan sakramen Perjamuan Kudus ditunda, dan dapat dilaksanakan kembali setelah wabah COVID-19 mereda.
 
Penundaan pelaksanaan sakramen tidaklah melanggar prinsip-prinsip teologi Kristen atau ajaran Alkitab. Misalnya, pada awal gereja, Perjamuan Kudus biasanya dilaksanakan seminggu sekali, tetapi seiring perkembangan waktu, gereja-gereja menjadi lebih terbiasa melaksanakannya sebulan sekali atau tiga bulan sekali.
 
 
2. Melaksanakan Perjamuan Kudus di rumah masing-masing
 
Jemaat Kristen mula-mula bersekutu di rumah-rumah untuk berdoa dan memecahkan roti (Kis. 2:42, 46). Mengacu pada tradisi purba ini, gereja-gereja dapat mempertimbangkan pelaksanaan Perjamuan Kudus dan/atau perjamuan kasih dalam ibadah di rumah.
 
Dalam hal ini, sebagai alternatif, pelaksanaan dipimpin oleh kepala keluarga atau warga sidi yang ditunjuk atas nama keluarga. Roti dan anggur Perjamuan Kudus yang disediakan gereja dan dilayankan oleh pendeta atau pelayan tahbisan dibagikan kepada keluarga-keluarga, yang melaksanakan ibadah sesuai dengan liturgi yang disediakan oleh sinode masing-masing.
 
Di era digital atau online, pilihan lain adalah kehadiran pemimpin ibadah secara virtual, membacakan formula konsekrasi bagi jemaat yang bersekutu bersama-sama di ruang virtual yang sama, menyiapkan roti dan anggurnya di rumah, dan menikmati Perjamuan Kudus bersama. 
 
Jika jemaat kesulitan untuk memperoleh anggur dan roti karena keadaan darurat ini, maka dapat digantikan air teh dan roti/kue sebagai lambang darah dan tubuh Tuhan Yesus.
 
 
3. Perjamuan Kudus secara spiritual (spiritual communion)
 
Pada masa persekusi, saat umat Kristen tidak bisa bersekutu, praktik Perjamuan Kudus secara spiritual menjadi pilihan. Thomas Aquinas menyatakan, Perjamuan Kudus secara spiritual adalah keinginan kuat untuk menerima Kristus dalam Perjamuan Kudus dan sebuah cinta yang merangkul kita seolah kita sendiri telah menerima-Nya.
 
Dalam praktik ini, kasih Allah memenuhi kerinduan yang sangat besar akan Perjamuan Kudus melampaui syarat kehadiran ragawi. Momen ini dapat disiapkan dalam liturgi, seperti yang ditegaskan oleh Bapa Gereja Augustinus, “Percayalah, dan engkau sudah menerimanya.”
 
Pilihan ini bisa mengisi kerinduan umat sampai Perjamuan Kudus secara ragawi sudah dimungkinkan kembali. 
 
 
Catatan Minggu
4 Oktober 2020
*) disarikan dari satuharapan.com/pgi.or.id
 
Selamat hari Minggu semua...
Gusti mberkahi...
 
by: Admin

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Hari Raya Kabar Sukacita (Feast of The Annunciation)

  Sama seperti di awal pekan bulan Maret lalu saat kita memperingati Rabu Abu. Di pekan penutup bulan ini, sebenarnya gereja juga memili...